Menyatukan Nilai dan Ilmu: Praktik Integrasi Pendidikan Agama Islam

| Oleh: Rahmi Meyleni Putri Jakarta

💫Di tengah tantangan zaman digital, bagaimana sekolah menanamkan nilai-nilai keislaman yang tidak hanya dihafal, tetapi juga dihayati dan dipraktikkan oleh siswa? 

Dalam perspektif Islam, ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai keimanan. Pendidikan bukan hanya transmisi informasi, tetapi juga transformasi karakter yang dilandasi oleh tauhid dan akhlak mulia. Studi lapangan yang dilakukan di dua sekolah negeri di Jakarta SMP Negeri 175 Jakarta dan MTs Negeri 6 Jakarta memberikan gambaran nyata bagaimana integrasi antara Pendidikan Agama Islam (PAI) dan disiplin ilmu lainnya diimplementasikan dalam dunia pendidikan formal. Melalui wawancara langsung dengan dua guru PAI berpengalaman, kami dapat mengetahui integrasi PAI dalam konteks kurikulum, budaya sekolah, serta tantangan era digital.

 Ibu Iin Fitriyah, M.Pd. (Guru PAI SMPN 175)

Ibu Neneng Hayati, S.Ag. (Guru Al-Quran Hadist MTsN 6)

🏫Profil Sekolah

SMPN 175 Jakarta dan MTsN 6 Jakarta merupakan dua institusi pendidikan yang beroperasi di atas fondasi filosofis dan operasional yang kokoh. Keduanya memiliki struktur organisasi yang jelas dan terdokumentasi, menjadi kerangka utama dalam menjalankan program-program pendidikan yang terarah.

SMP Negeri 175 Jakarta
MTs Negeri 6 Jakarta

SMPN 175 Jakarta berdiri pada tahun 1981 berdasarkan SK tertanggal 14 Juli 1981 dan saat ini dipimpin oleh Kepala Sekolah Sri Aisah, M. Pd., memiliki visi "Terwujudnya peserta didik yang beriman dan berakhlak mulia, cerdas, mandiri, dan berwawasan global." Dalam wawancara dengan Ibu Iin Fitriyah, M.Pd., guru PAI yang telah mengabdi selama 6 tahun, dijelaskan bahwa nilai-nilai keislaman bukan hanya hadir dalam mata pelajaran agama, namun juga melalui pembiasaan dan kultur sekolah. Visi ini diterjemahkan ke dalam tata tertib yang mencakup aspek kebersihan (potong kuku, kerapian rambut) dan keagamaan, seperti himbauan memakai hijab bagi siswi Muslim.

Pendidikan di SMPN 175 merepresentasikan pendekatan "integratif-holistis", yaitu mengaitkan nilai-nilai spiritual dengan kecerdasan intelektual dan sosial. Ini tercermin dari visi misi sekolah yang memadukan antara Iman-Taqwa (IMTAK) dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Sementara itu, MTs Negeri 6 Jakarta adalah lembaga berbasis Islam yang mengembangkan sistem (boarding school) sejak tahun ketiga berdirinya dan saat ini dipimpin oleh Kepala Sekolah Hj. Haniah Masse, Lc, MA.,  memiliki visi “terwujudnya peserta didik yang unggul dalam ilmu dan amal berdasarkan IMTAK dan IPTEK” dalam wawancara dengan Ibu Neneng Hayati, guru Al-Qur’an Hadis selama 23 tahun, mengungkapkan bahwa visi ini bukan sekadar tulisan, melainkan diwujudkan dalam budaya harian seperti 4S (Senyum, Sapa, Salam, Sopan). "Tujuannya adalah menyeimbangkan antara ilmu pengetahuan dan agama". Tata tertib di madrasah ini diperbarui setiap tahun untuk menyesuaikan dengan kebutuhan, seperti aturan mengenai penggunaan gawai yang hanya diizinkan untuk keperluan pembelajaran. 

Dengan pendekatan yang berbeda namun nilai yang sama, kedua sekolah membuktikan bahwa pendidikan karakter berbasis iman dan akhlak tetap menjadi fondasi utama dalam membangun generasi yang unggul secara spiritual dan intelektual. baik sekolah umum maupun madrasah menempatkan iman, takwa, dan akhlak sebagai fondasi yang tidak bisa ditawar sebelum membangun pilar-pilar akademis dan teknologi.


Adaptasi Implementasi Kurikulum pada Mata Pelajaran PAI

Kedua institusi mengimplementasikan Kurikulum Merdeka serta diperkaya secara signifikan oleh Kurikulum Muatan Lokal (Mulok) yang dirancang untuk menjawab kebutuhan spesifik. 

Di SMPN 175, telah menerapkan Kurikulum Merdeka sejak 2022. Dalam pelajaran PAI, kurikulum ini memungkinkan guru untuk menyesuaikan pembelajaran dengan Profil Pelajar Pancasila, salah satunya dengan mendorong kolaborasi dan kreativitas siswa. Ibu Iin menjelaskan bahwa pembelajaran lebih ditekankan pada praktik: seperti pembuatan video, diskusi kelompok, dan proyek keagamaan.Hal ini sejalan dengan prinsip tawhidic paradigm dalam Islam yang mengintegrasikan akal dan wahyu. Pembelajaran bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga penguatan akhlaqiyyah (moralitas) siswa agar ilmu yang diperoleh bermanfaat dan tidak disalahgunakan. Serta  diperkuat oleh Muatan Lokal yaitu Baca Tulis Qur’an (BTQ) untuk memastikan kompetensi literasi Al-Qur'an dan program Keputrian untuk pembinaan fiqih wanita.

Di MTsN 6, Kurikulum Merdeka diadaptasi dengan sebuah pagar pelindung yang kuat. Menurut Ibu Neneng, tantangan utamanya adalah perilaku dan fokus anak di era digital. Oleh karena itu, implementasinya harus dijaga agar tidak lari dari prinsip agama. "Menuntut ilmu itu tujuannya merubah perilaku menjadi lebih baik lagi," tegasnya. Untuk menanggulangi tantangan fokus, strategi seperti hafalan ayat dan hadist di setiap pelajaran diterapkan. Serta diperdalam dengan kurikulum muatan lokal khas Kementerian Agama. Pendekatan ini memperkuat teori fikrah Islamiyah bahwa ilmu agama dan ilmu dunia tidak boleh terpisah, melainkan saling memperkuat.

Setiap pembelajaran PAI dilengkapi dengan hafalan ayat dan hadis, bukan sekadar untuk diingat, tetapi dipraktikkan. Inilah bentuk dari pembelajaran kontekstual berbasis wahyu, di mana setiap ilmu diarahkan untuk memperkuat keimanan dan amal siswa.


💫Implementasi di Lapangan: Dari Kelas hingga Kegiatan Pendukung

Implementasi visi dan kurikulum tersebut diterjemahkan ke dalam program unggulan yang khas.

SMPN 175 Jakarta, menerapkan pembelajaran yang mendorong siswa menjadi "aktif, kreatif, dan inovatif." Ibu Iin Fitriyah menjelaskan bahwa metode berbasis proyek, seperti pembuatan video pembelajaran berkelompok, menjadi pilihan utama. Teknologi juga dimanfaatkan melalui kuis interaktif dan pembelajaran juga diawali dengan ice breaking atau kegiatan pemantik yang menggunakan perangkat digital. Serta fokus pada program yang membangun kompetensi sosial-religius dan kepemimpinan praktis melalui:
  • Pesantren Kilat selama 3 hari di bulan Ramadan

  • Zakat Fitrah dengan pelibatan aktif siswa dalam pengelolaan

  • Kegiatan Keputrian dengan pembicara dari luar

  • Pembiasaan harian seperti Tadarus dan Manajemen Qolbu (tausiyah oleh siswa) juga rutin dilaksanakan.

Menurut Ibu Iin, evaluasi program tidak hanya dilihat dari partisipasi, tetapi juga perubahan sikap dan perilaku siswa pasca kegiatan. Ini adalah contoh dari pendekatan evaluatif-transformatif dalam integrasi ilmu Islam, yaitu mengukur keberhasilan pendidikan dari dampaknya terhadap akhlak siswa.

MTsN 6 Jakarta, proses pembelajaran di kelas diawali dengan pendekatan motivasional untuk membangun kesiapan mental siswa, mengingat pentingnya kondisi psikologis mereka sebelum menerima materi. Ibu Neneng Hayati menekankan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka harus memastikan siswa tidak "lari dari pendidikan agama itu sendiri." Untuk menjawab tantangan seperti kurangnya fokus siswa, diterapkan strategi hafalan ayat dan hadis di setiap sesi pembelajaran, disertai pendekatan emosional dari hati ke hati agar materi lebih mudah dipahami dan membekas. Keberadaan sistem boarding school turut mendukung pembentukan karakter religius melalui lingkungan belajar yang lebih intensif dan terkontrol melalui program asrama. Ini didukung oleh program pendalaman keilmuan Islam seperti:

  • 📖 Program Tahfidz (Juz 30 untuk kelas 7, Juz 29 untuk kelas 8)

  • 📘 Amsilati (pendalaman Nahwu-Shorof)

  • 🧠 Hafalan ayat dan hadis dalam setiap pembelajaran sebagai indikator evaluasi kemajuan siswa secara individual.


☪️Nilai-Nilai Keislaman yang Ditanamkan

Dari semua nilai yang diajarkan, wawancara dengan kedua narasumber secara konsisten mengerucut pada satu prioritas utama. "Paling pertama yaitu adab, karena akhlak itu lebih utama dari ilmu," tegas Ibu Iin Fitriyah. Pernyataan ini menjadi prinsip sentral yang juga dipegang teguh di MTsN 6. Siswa dibina untuk memiliki sopan santun dan tata krama. Selain adab dan akhlak, nilai-nilai utama lainnya yang ditanamkan adalah:

  • Keimanan: Diimplementasikan melalui pembiasaan dan monitoring ibadah shalat.

  • Toleransi: Dibuktikan di SMPN 175 dengan adanya fasilitas dan penghormatan terhadap pelaksanaan ibadah siswa non-muslim.

  • Sosial: Ditekankan di MTsN 6 melalui pentingnya hubungan baik antar teman dan warga sekolah. Serta di SMPN 175 diperkuat lewat infak, zakat fitrah, dan kegiatan sosial keagamaan.


✨Peran Guru dalam Pengembangan Nilai-Nilai Keislaman

Guru PAI memiliki peran sentral dalam membimbing dan memotivasi siswa. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi menjadi teladan (role model). Bentuk peran tersebut antara lain:

  • Monitoring ibadah siswa (seperti kehadiran salat).

  • Kolaborasi lintas mata pelajaran, contohnya:

    • Di SMPN 175, meskipun belum terdapat program kolaboratif formal antarguru lintas mata pelajaran dalam menanamkan nilai keislaman, terdapat keterlibatan informal dan tidak langsung dari guru-guru lain, khususnya dalam kegiatan keagamaan contohnya: Guru-guru lain yang muslim ikut serta dalam pelaksanaan pesantren kilat dan ikut bergiliran menjadi imam atau memimpin shalat berjamaah serta keterlibatan guru PPKN menanamkan nilai karakter pada mata pelajaran tersebut.

    • Di MTsN 6, guru PAI menjalin kolaborasi lintas mata pelajaran. Contoh: dalam pelajaran IPA, guru mengaitkan materi tentang alam dengan ayat Al-Qur’an.

  • Guru juga melakukan pendekatan emosional, kisah inspiratif dan spiritual agar materi PAI lebih mengena di hati siswa.

✨Menciptakan Lingkungan Pembelajaran yang Religius

Lingkungan religius diciptakan melalui serangkaian pembiasaan dan monitoring, seperti budaya 4S di MTsN 6 dan pemantauan absensi shalat di SMPN 175. 

Sekolah membangun suasana religius melalui:

  • Shalat berjamaah dan dhuha bersama

  • Tadarus dan manajemen qolbu

  • Perayaan hari besar Islam

  • Absensi dan monitoring kebiasaan ibadah

  • Apresiasi siswa yang hafal Qur’an dan berakhlak baik

Namun, kedua sekolah menghadapi tantangan fundamental yang sama dalam menjaga ekosistem ini: sinergi dengan orang tua.

Isu ini diakui sebagai halangan terbesar. "Tantangannya yaitu jika tidak berkolaborasi dengan orang tua, karena jika di sekolah sudah dilaksanakan kegiatan Islam rutin namun di rumah orang tua tidak menjadi role model, maka akan sulit," ujar Ibu Iin. Upaya menjembatani kesenjangan ini dilakukan melalui komunikasi dan sosialisasi program secara berkala kepada wali murid, sebuah langkah krusial untuk memastikan konsistensi pendidikan karakter.

Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa baik sekolah umum maupun madrasah mampu merancang dan mengimplementasikan model pendidikan Islam yang komprehensif. Perbedaan pendekatan pada tataran program dan kurikulum lokal justru menunjukkan adaptabilitas sistem pendidikan dalam merespons konteks dan identitas masing-masing, namun keduanya bersatu dalam misi fundamental untuk mencetak generasi yang beradab dan berakhlak mulia.


✨Menuju Sekolah yang Religius dan Adaptif 🌐

SMPN 175 dan MTsN 6 Jakarta menunjukkan bahwa integrasi nilai Islam dalam pendidikan formal bukan sekadar teori, melainkan praktik nyata yang dapat diukur dan dievaluasi. Dengan pendekatan yang adaptif terhadap era digital dan tetap berakar pada nilai-nilai tauhid, kedua sekolah ini menjadi model bagi pendidikan karakter yang utuh berbasis iman, ilmu, dan amal.


"Paling pertama yaitu adab, karena akhlak itu lebih utama dari ilmu."

        "Tantangannya yaitu jika tidak berkolaborasi dengan orang tua, karena jika di sekolah sudah dilaksanakan kegiatan Islam rutin namun di rumah orang tua tidak menjadi role model, maka akan sulit." 

Ibu Iin Fitriyah, M.Pd., Guru PAI SMPN 175 Jakarta

"Menuntut ilmu itu tujuannya merubah perilaku menjadi lebih baik lagi."

Ibu Neneng Hayati, S.Ag., Guru Al-Quran Hadist MTsN 6 Jakarta





📍 Lokasi Wawancara:

  • SMPN 175 Jakarta, Jl. Jati Padang, Jagakarsa, Jakarta Selatan

  • MTsN 6 Jakarta, Jl. Mangga No.40 2, RT.2/RW.3, Batu Ampar, Kec. Kramat jati, Kota Jakarta Timur 

 📅 Tanggal: 23–24 Juni 2025 

🖋️ Reporter: Rahmi Meyleni Putri, Nailah Ulima Yansyah, & Siti Zahra Aqilah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tokoh-Tokoh Ilmuwan Muslim dan Kontribusinya

Mengapa Islam Perlu Didekati Lewat Humaniora?